Masjid Al-Huda Sadananya
Pada tahun 1974, disebuah kampung yang dipenuhi pohon-pohon dari yang pendek tipis sampai tinggi besar, tanah padat kemerah-merahan sampai kehitam-hitaman, dengan penduduk yang tidak begitu padat, dan tambahan kekayaan alam berupa sawah beberapa (sawah di perkebunan dengan air tadah hujan) yang awalnya adalah situ yang disaeur, berdirilah tajug (masjid kecil) berukuran 6 m x 8 m diatas kolam ikan milik pasangan bapak Mahudin dan ibu ukilah (H. Soheh dan Hj. 'Aliyah
Hj. Eulis Sri Rosyidatul Badriyyah, M.Pd.I - Pada tahun 1974, disebuah kampung yang dipenuhi pohon-pohon dari yang pendek tipis sampai tinggi besar, tanah padat kemerah-merahan sampai kehitam-hitaman, dengan penduduk yang tidak begitu padat, dan tambahan kekayaan alam berupa sawah beberapa (sawah di perkebunan dengan air tadah hujan) yang awalnya adalah situ yang disaeur, berdirilah tajug (masjid kecil) berukuran 6 m x 8 m diatas kolam ikan milik pasangan bapak Mahudin dan ibu ukilah (H. Soheh dan Hj. 'Aliyah, nama yang diberikan oleh Mama Atori setelah kembalinya ibadah haji pada tahun 1975), sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan masyarakat yang menyertai perjuangan ajengan muslim dalam mensyiarkan islam di lembur cipeuteuy. Kehadiran ajengan muslim di lembur ini bukan tanpa sebab, melainkan adanya permintaan dari para tokoh setempat seperti H. Soheh, H. Muhyi, ajengan Sayuti, H. Mustofa (abah sayur) dan pengelola wakaf, karena sebelum ajengan muslim pindah ke kampung ini, beliau telah memiliki masjid binaan di dekat rumah nya di dusun landeuh yang disesepuhi oleh ibu tiko (alm) dengan jumlah jamaah ibu-ibu majelis ta'lim ba'da Asar tiap harinya sampai 40 orang ditambah pengajian anak-anak tetangga setiap ba'da magrib dan ba'da subuh.
Setiap santri kebanyakan memiliki keinginan untuk dimukimkan oleh gurunya, maka di tahun 1975 pula ajengan muslim resmi dimukimkan oleh gurunya mama Khoer Affandi, pimpinan sekaligus pendiri pondok pesantren miftahul Huda manonjaya tasikmalaya, dengan merubah nama lembur cipeuteuy menjadi situsaeur, karena ajengan muslim secara sah mendapat amanat 60 bata tanah wakaf dari H. Hanafiah yang sebelumnya dikelola oleh H. Bakri, dilanjutkan oleh ajengan Basyari, kemudian oleh bapak Ahmad. Yang sebelumnya merupakan situ/balong gede yang disaeur (diratakan). Maka sebagai bentuk tanggungjawabnya, ajengan muslim pasca di mukimkan di lembur situsaeur terus membangun dakwahnya melalui jalur pendidikan, dan di tajug inilah beliau mengamalkan ilmu yang dimilikinya hasil mondok di beberapa pesantren yang salah satunya adalah ponpes albarkah sukajadi, ponpes miftahul Huda manonjaya, ponpes sadang garut, ponpes cibenteur Banjar dan banyak lagi.
Selain berfungsi untuk mendirikan sholat wajib berjamaah, tajug ini digunakan pula untuk mendidik anak-anak di lingkungan situsaeur lewat pengajian ba'da magrib dan subuh, juga ibu-ibu melalui pengajian ahadan/mingguan dan bapak-bapak jum'at pagi, karena banyaknya jamaah (sekitar 300 orang) yang selalu memenuhi tajug yang sempit ini maka kejadian yang tidak diinginkan terjadi, yakni tahun 1978 jublag tajug ini oleng hilang kendali tidak kuat menahan beban para jamaah majlis ta'lim, maklum pondasinya hanya tihang bata tanpa besi dan cor an, akhirnya dimulailah renovasi tahap pertama dengan pelebaranya menjadi 6 m x 10 m, karena sebelum tajug ini roboh sudah mulai dibangun madrasah maka untuk sementara kegiatan harian tajug pindah ke madrasah. Mulai tahun 1978 ini pula berdatangan santri/ah bukan hanya dari desa sadananya tapi juga dari desa-desa tetangga baik yang kalong (hanya mengaji tidur di rumahnya masing-masing) maupun yang mondok (santri laki-laki di madrasah, santri putri di rumah ajengan muslim). Adapun santri pertamanya salah satunya adalah ajengan solihin, ajengan supyan, ajengan wahyudin, ade jilun dan banyak lagi dengan berbagai profesi yang berbeda. Setelah tajug ini selesai di renovasi maka kegiatan memakmurkan masjid kembali dilakukan oleh pengurus Dewan Kemakmuran Masjid, adapun salah satu tambahannya adalah mulai tahun 1982 di masjid ini didirikan sholat 'id khusus untuk perempuan baik 'id fitri mau pun 'id adha.
Karena jamaah semakin bertambah, sedangkan kapasitas masjid tidak memungkinkan maka pada tahun 1994 renovasi ke dua dilakukan dengan tambahan luas 10 m x 10 m sampai akhirnya ada informasi pengajuan Proposal ke timur Tengah dengan syarat luas harus 12 m x 12 m alhamdulillah bapak H. Soheh mengikhlaskan kolam ikan nya untuk di dirikan bangunan masjid yang terus di perluas. Setelah masjid ini selesai direnovasi maka dinamailah masjid assohabah, walaupun masyarakat tetap menyebutnya masjid al Huda karena ada di tengah pesantren al Huda yang diperkuat oleh penamaan yayasan al Huda tahun 1980.
Kini di yayasan al Huda sadananya tidak hanya ada pondok pesantren, majlis ta'lim dan sakola agama (madrasah Diniyah) tapi sudah dilengkapi dengan lembaga pendidikan formal dari mulai MTs tahun 1979, SLB tahun 2003 dan SMK tahun 2011, dengan jumlah total murid mencapai 800 orang, yang otomatis masjid ini tidak cukup untuk menampung sholat berjamaah keluarga besar yayasan al Huda juga masyarakat sekitar, maka tahun 2018 mulailah renovasi masjid al Huda yang ke empat, diatas tanah wakaf 14 m x 14 m dari bapak Drs. H. Maman Abdurrahman, Ketua yayasan al Huda sadananya generasi ke empat (kepemimpinan sekarang) setelah bapak Suwandi (alm), bapak H. Muslim (alm), dan bapak H. Syarifullah.
Semoga kebaikan orang-orang yang membantu mendirikan dan memakmurkan masjid al Huda ini Alloh SWT ganti dengan didirikan masjid di surga dan diberikan kebahagian lahir bathin bagi seluruh keluarga dan keturunannya, berkah profesinya, bermanfaat ilmunya, sehat dan istiqomah dalam dakwah demi tegaknya islam rahmatan lil'aalamiin aamiin