Maung Diva Situsaeur Sadananya

i sebuah hutan dengan tekstur tanah liat berwarna coklat, merah dan kekuning-kuningan, beriklim sedikit basah, sejuk di pagi hari hangat di siang hari, ditengahnya terdapat Situ (danau kecil) yang airnya jernih dan ikannya pun banyak, dari sela-sela bebatuan yang berlumut hijau mengalir air diatas selokan kecil,

Maung Diva Situsaeur Sadananya

Eulis Sri Rosyidatul Badriyyah - Di sebuah hutan dengan tekstur tanah liat berwarna coklat, merah dan kekuning-kuningan, beriklim sedikit basah, sejuk di pagi hari hangat di siang hari, ditengahnya terdapat  Situ (danau kecil) yang airnya jernih dan ikannya pun banyak, dari sela-sela bebatuan yang berlumut hijau mengalir air diatas selokan kecil, tidak ketinggalan berbagai pohon tumbuh dengan baik, ada yang kurus tinggi, besar, bahkan ada yang pendek dengan warna daun yang berbeda, hijau, kuning, sedikit merah sampai yang berguguran berwarna kecoklatan. Suara-suara hewan setiap pagi dan menjelang malam berpadu dengan suasana mistis yang membuat bulukuduk manusia penakut berdiri dan mengeluarkan keringat dingin, tapi jangan salah, ketika cahaya pagi menyinari tidak jarang suara burung berkicau merdu menambah hangat dan sejuk serta betah berada di hutan ini.

Hanapi, itulah nama pemuda pemberani yang hidup di hutan ini, untuk menjaga diri dari teriknya matahari di siang hari, gelapnya malam ketika datang dan derasnya hujan ketika turun maka dia membangun rumahnya seorang diri, beralaskan kayu tebal dan sedikit lebar yang disusun dengan rapih, dibawahnya batu persegi panjang yang sama besar di tiap sisi-sisinya, berdindingkan anyaman bambu sedikit berlubang sebagai ventilasi agar udara dan cahaya matahari tetap bisa menyelinap masuk kedalamnya, ukuran 1-2 meter diatas permukaan tanah sebelum papan alas rumah, bisa digunakan untuk menyimpan perkakas dan barang lainnya, sedangkan bahan pintu dan jendela adalah perpaduan kayu dan anyaman bambu, begitupun tiga anak tangga sebagai jalan untuk naik ke rumah panggung adalah berbahan dasar kayu yang sama, atap rumahnya dari daun rumbia yang kesemuanya itu tersedia di hutan ini. Dengan kemampuan yang dimilikinya ia bisa beradaptasi dan bertahan hidup.

Untuk bisa betah dihutan ini, tidak cukup hanya berbekal keterampilan psikomotorik seperti diatas, tapi dibutuhkan ilmu bathin untuk bisa hidup berdampingan dengan makhluk lainya ciptaan Tuhan, terutama yang berasal dari alam ghaib.

“Mmmmmhhhhhh, auukhhhh” suara menggerung terdengar dari balik bilik rumah Hanapi.

“Auuuuuung, Auuuuung” suara maung mengaung kembali terdengarnya.

“Siapa disana?” Hanapi bertanya sambil membuka pintu dan berjalan perlahan keluar mencari sumber suara yang dari tadi mengganggu istirahatnya.

“Aku Diva, yang menjaga hutan ini” Jawab harimau berwarna loreng dengan Bahasa yang difahami Hanapi melalui ilmu bathinnya.

“Kamu siapa? Mau apa dan dengan tujuan apa tinggal disini?” pertanyaan balasan ditujukan sang harimau kepada Hanapi.

“Saya Hanapi, disuruh guruku untuk menghidupkan hutan ini agar bisa dimanfaatkan manusia, mohon kiranya Maung Diva bisa bekerjasama dan membantu saya menjalankan Amanah guru” Hanapi menjelaskan.

Dari sana hubungan Maung Diva dengan Hanapi berlanjut menjadi Khadam dengan tuannya. Tidak sembarang orang bisa melihatnya, hanya orang tertentu saja. Tidak lama kemudian Hanapi pun melihat seorang gadis cantik di ujung Situ, hatinya tidak bisa dibohongi kalau dia menyukainya, kesempatan ini tidak dia sia-siakan, Hanapi terus memperhatikan gerak gerik perempuan itu dari jauh, kemudian mengikutinya sampai akhirnya dia sampai diujung hutan dan melihat gadis itu masuk kedalam sebuah gubuk kecil.

“Aku harus berani menemuinya” pikirnya, tak lama kemudian Hanapi pun melihat sosok laki-laki berkumis baplang keluar dari gubuk yang sama. “siapakah dia? Ayahnyakah? Suaminya? Atau siapa?” pikirannya kembali bertanya-tanya. Akhirnya Hanapi pun meminta Maung Diva untuk membantunya.

“Diva, masuklah kedalam gubuk itu, dan cari tahu untuku siapa perempuan yang tadi ada di ujung Situ itu, jangan memperlihatkan wujudmu, biarkan mereka tidak menyadari keberadaanmu. Aku tunggu kamu disini” perintah hanapi

“Baik tuan, siap laksanakan!” segera Diva berjalan menuju gubuk yang dituju. Selang beberapa waktu, kabar baik pun Hanapi terima bahwa gadis itu adalah putra sang paman pemilik kumis baplang yang tadi keluar. Singkat cerita mereka pun menikah dan memiliki keturunan, mulailah Situ (danau) itu sedikit demi sedikit diratakan untuk dijadikan lahan pertanian penopang hidup keturunan Hanapi, salah satunya dijadikan sawah tadah hujan dan bertambahlah gubuk-gubuk di daerah ini, sampai akhirnya Hanapi meninggal dan Amanah gurunya terus dilanjutkan oleh para pewarisnya.

Walaupun Hanapi telah tiada, Maung Diva tetap ada menjaga keluarga Hanapi dan pemukimannya, ada orang  yang melihatnya berwarna loreng seperti macan tutul, kadang terlihat putih, hitam dan kuning saja satu warna. Perawakannya tinggi seperti kuda dan besar seperti gajah. Tempat istirahatnya di bawah pohon kopi atau kebun honje abah Marhapi seorang kakek yang hidup di wilayah barat dari kampung ini, kadang pula di dekat maqom mbah Ngabei orang pertama yang membangun sungai Cileueur salah satu tempat mengalirnya air dari gunung Syawal menuju muara Citanduy.

Karena pohon pete lebih banyak dihutan ini, keturunan Hanapi menamainya dengan lembur Cipeutey, disini mulai dibangun Tajug (masjid kecil) sebagai tempat beribadah dan menuntut ilmu agama Islam, berdiri dibawah asuhan Ajengan Sayuti di wilayah girang, sampai akhirnya mendatangkan ajengan muda lulusan Miftahul Huda Manonjaya untuk membantu membuka lahan dan menghidupkan ajaran agama disini dengan memindahkan tajug sebelumnya keatas kolam ikan milik bapak Mahudin yang berukuran 6 m x 8 m.

Walaupun penduduk setempat kadang ikut mengaji kepada Ajengan Sayuti, sesembahan berupa sesajen oleh Sebagian masyarakat masih dilakukan, baik itu untuk memanggil Maung Diva, atau memuja Mbah Ngabei, bahkan sesajen berisi arang, menyan, amparan kain putih, kendi berisi air daun hanjuang, rujak tujuh rasa, tumpeng, kopi pahit dan manis, air yang sudah dimasak dan disimpan didalam batok, telor, serta buah-buahan yang kesemuanya itu disimpan di bawah pohon-pohon besar untuk memudahkan hajatnya, merupakan sebuah kemusyrikan dalam pandangan agama Islam.

“Siapa kiranya yang bisa membantu kita menghilangkan kemusrikan di kampung ini?” saya sendiri sudah tidak sanggup kata Ajengan Sayuti dalam sebuah musyawarah para tokoh yang dihadiri oleh Pak Mahudin alias Kasman Alias H. Shoheh, Pak Muhyi, Pak Iwa, abah sayur dan Pak Yusuf.

“Ada dua orang yang pantas untuk dimintai bantuan, pertama Ajengan Elim alias Muslim dari kampung Landeuh atau kedua Ajengan Syarif dari Panawangan yang habis berguru kepada murid Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan Tasikmalaya. Saat ini dia sedang istirahat di rumah saya, karena permintaan gurunya.” Pak Muhyi menerangkan.

Mereka pun berdiskusi sedikit alot, dua ajengan itu di butuhkannya, tapi tetap harus memilih satu diantara keduanya. Maka berdasarkan hasil konsultasi dengan pemilik tanah Aki Muhammad bin Bakrie bin Hanapi, diputuskanlah bahwa untuk di lembur Cipeuteuy ditunjuk Ajengan Elim yang akan membantu ajengan Muhyi, sedangkan ajengan Syarif di tempatkan di kampung Cibiru masih ditanah wakaf milik keluarga besar Hanapi.

“Baik semua hadirin yang rapat, apakah setuju dengan keputusan diatas?” Ajengan Sayuti kembali menegaskan sebagai pimpinan musyawarah.

“Setuju” sahut semua peserta kompak.

Inilah salah satu pertimbangan Ajengan Elim diminta pindah ke kampung ini, beliau telah berpengalaman membina masyarakat melalui masjid binaan di dekat rumahnya di Dusun Landeuh yang disesepuhi oleh ibu Tiko (alm) dengan jumlah jamaah ibu-ibu majelis ta’lim ba’da Asar tiap harinya sampai 40 orang ditambah pengajian anak-anak tetangga setiap ba’da magrib dan ba’da subuh. Kualitas keilmuanya tidak diragukan, tidak hanya ilmu dhohir tapi ilmu bathinnya juga, orangnya supel dalam bergaul, tidak fanatik, berkharisma, disiplin, tegas, berwibawa, santun, penuh kasih sayang, tidak sombong, sederhana dan sedikit bicara banyak memberi teladan, beliau ahli silaturrahmi tidak hanya dengan keluarga, tetangga, alumni tapi juga para pejabat dan tokoh masyarakat.

“Duuur, api menyala di lantai dua asrama putra, santri yang ada menjerit dan keluar berhamburan” cerita Solihin santri senior yang mondok di pesantren ajengan Muslim.

“Ssssst, tak, ssssst, tak, dari masjid ke madrasah kemudian naik ke lantai dua asrama putra Ajengan Muslim dengan cepat bergerak untuk memadamkan api yang terus membesar” lanjut Solihin. Bukan hanya itu yang pernah ia lihat, tapi ketika mendampinginya berjalan menuju sebuah pengajian, hujan turun dengan lebatnya, anehnya sang guru tidak kehujanan, saya pun heran, dari sana semangat menuntut ilmu dari Ajengan Muslim semakin tinggi hidup dan berkobar dalam hati Solihin.

Setiap santri kebanyakan memiliki keinginan untuk dimukimkan oleh gurunya, maka di tahun 1975 pula Ajengan Elim resmi dimukimkan oleh gurunya Mama Khoer Affandi, pimpinan sekaligus pendiri pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, dengan merubah nama lembur Cipeuteuy menjadi Situsaeur, karena Ajengan Muslim secara sah mendapat amanat 60 bata tanah wakaf dari H. Hanapiah (Hanapi) yang sebelumnya dikelola oleh H. Bakrie, dilanjutkan oleh ajengan Basyari, kemudian oleh bapak Ahmad. Maka sebagai bentuk tanggungjawabnya, Ajengan Muslim pasca di mukimkan terus membangun dakwahnya untuk merubah salah satu kebiasaan masyarakat diatas melalui jalur pendidikan, dimulai dari tajug ini, kemudian Madrasah Diniyah, Majelis Ta`lim, Pondok Pesantren, Yayasan dan Madrasah Tsanawiyah Al-Huda sampai beliau wafat tahun 2000.

Sampai tahun 2018  masyarakat luar yang akan berbuat jahat di kampung ini akan sulit untuk masuk, baik sekedar mencuri ikan, atau pun mencuri kekayaan yang lebih besar nilai jualnya dari sekedar ikan di kolam. Karena ketika mereka mau berbuat jahat dari atas bukit sudah terlihat kampung ini adalah sebuah lautan yang dalam, atau Maung Diva akan keluar dan membuat penjahat itu lari terbirit-birit ketakutan.

“Lapor bos, setelah beberapa hari mengintai daerah Situsaeur, masyarakat disana menyimpan motor didepan rumah tanpa di kunci ganda atau leher, kadang rumah ditinggalkan tanpa dikunci pemiliknya, lumbung padi pun sangat mudah untuk dijangkau, hasil perkebunan disimpan di bawah rumah panggung, ada juga yang hanya diteras belakang dapurnya, ini titik yang bisa kita curi bos” Dono mejelaskan sambil memperlihatkan peta sederhana yang dibuatnya sebagai laporan.

“Kerja kamu bagus Don, Baik kita oprasi malam ini saja, bagaimana yang lain siap?” tanya Bos Remon kepada anak buahnya.

“Siap laksanakan bos!” Semua pencuri itu menjawab kompak.

Ketika sampai diperbatasan Situsauer, Si Kojek lari terbirit-birit “ Ampuuun, jangan makan saya, ampuun” teriaknya.

“Ada apa Kojek, ssst, Nanti orang pada bangun!” Rohili menenangkan.

“Ampun li…. Saya melihat Maung loreng dengan matanya yang tajam menakutkan, kumisnya yang tipis lebat serta rahang yang siap menerkam dengan gigi dan cakarnya yang kuat, kaki depannya yang lebih pendek dari kaki belakang sudah mengambil ancang-ancang dan siap berlari mencari mangsa, mengaung-ngaung memekakan telinga membuat saya takut dan berlari.

“Aah, lu penakut Li, Sudah aku saja yang memimpin oprasi malam ini, jangan lupa kalian semua pakai tutup kepalanya!” Rohili mengingatkan. Baru saja beberapa Langkah dari tempat Si Kojek berhenti, Dono melihat seolah-olah ada Naga Putih yang memutari daerah ini.

“Hai, lihat keatas langit itu, apa kita yakin mau mencuri di daerah ini?” tanya Dono pada teman-temannya.

“Yakinlah, kenapa tidak? Kan kata kamu daerah ini aman dan banyak pundi-pundi yang bisa kita bawa” Rohili menjawab antusias.

“Memangnya kalian tidak bisa melihat apa diatas sana ada apa?” tanya Dono kembali.

“sdbenarnya ada apa sih Don?” semua serempak menjawab dan merasa heran. “Na, na,  Naga Pu, pu, putih lagi besar bro” Dono menjawab gemetar dan celananya pun basah tidak bisa menahan air seni hangat yang mengalir di pahanya karena ketakutan.

“Tuh kan ada keanehan lagi” timpal si Kojek.

“Sudah, sudah fokus saja, nanti kita dimarahin si Bos lagi” Rohili mengingatkan. Dona dan Kojek pun berjalan di belakang Rohili, ketika baru lima menit untuk melanjutkan rencana pencurian itu, barulah Rohili yakin dengan apa yang si Kojek dan si Dono lihat, badannya mengalirkan bola-bola keringat yang sedikit demi sedikit memanjang dan terjatuh baik dalam ukuran yang kecil-kecil seperti kumpulan gerimis yang datang amupun keringat yang besar seperti air hujan yang lebat dan disertai batu es yang terjun cepat dari langit, ditambah hawa dingin yang menerpa badan membuat mual orang yang merasakannya, karena anehnya apa yang dirasa, sampai beberapa kali mengucek-ngucek bola matanya untuk meyakinkan apa benar atau salah yang baru saja dilihatnya.

“Jak, Don, kemana rumah-rumah penduduk yang ada di depan mata kita tadi?” Tanya Rohili heran.

“Ada ko, Masih berjajar dengan cahaya temaram lampu malam lima watt” jawab si Kojek

“Ga ada, Dibawah hanya ada hamparan air laut yang terlihat dalam, ini serius bro” Rohili meyakinkan temannya, si Kojek dan si Dono pun saling bertatapan “Lari!” dengan sekuat tenaga berhamburan mereka mencari perlindungan dan bantuan. Akhrinya oprasi pencurian itu pun tidak pernah dilakukan di daerah Situsaeur. Sebagian penduduk disini masih meyakini Maung Diva lah yang membantu menjaga lingkungan ini tetap damai serta terhindari dari pencurian, perampokan dan segala jenis kejahatan yang bisa mengakibatkan masyarakatnya merasa tidak aman.

Saat ini perjuangan para the founding father itu terus dilanjutkan oleh keturunan Bapak H. Shoheh dan K.H Muslim dengan penambahan Lembaga yakni SLB dan SMK Al-Huda Sadananya. Amanah guru Hanapi pun terwujud sudah, kini Situsaeur telah menjelma menjadi pusat Pendidikan dari tingkat dasar sampai masyarakat umum, sehingga mampu mendatangkan orang belajar tidak hanya dari wilayah Kabupaten Ciamis tapi juga dari luar provinsi Jawa Barat. Dimana ada Lembaga Pendidikan, disana peradaban masyarakat mengalami kemajuan, dan manfaatlah tanah ini untuk kehidupan.

Sang majikan telah lama meninggal, entah siapa sekarang tuanya Maung Diva, yang pasti cerita adanya Maung Diva di Situsaeur Sadananya masih diyakini oleh sebagian sesepuh atau orang tua. Walaupun pemujaan seperti dulu tidak pernah dilakukan setelah Ajengan Muslim di mukimkan.

Wallohu`alam.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT