Mendidik Dengan Hati

ungguh mendidik itu tidak cukup berbekal ilmu paedagogik yang diberikan selama kuliah 8 semester di Fakultas keguruan, tidak pula pengalaman mengajar di berbagai jenjang pendidikan, baik tingkat dasar (KOBER/PAUD/TK/RA & SD/MI), tingkat menengah (SLTP/MTs/SMP), tingkat atas (SLTA/MA/SMA/SMK/MAK),.......

Mendidik Dengan Hati

Hj. Eulis Sri Rosyidatul Badriiyah, M.Pd.I - Salam ta'dzim, saya sampaikan untuk seluruh pedidik dimana pun berada, sungguh jasama tiada tara, melebihi perhiasan intan permata, tidak bisa dibeli dengan harta dan tahta, karena out put dari didikan yang baik dan positif itu melahirkan surga.

Sungguh mendidik itu tidak cukup berbekal ilmu paedagogik yang diberikan selama kuliah 8 semester di Fakultas keguruan, tidak pula pengalaman mengajar di berbagai jenjang pendidikan, baik tingkat dasar (KOBER/PAUD/TK/RA & SD/MI), tingkat menengah (SLTP/MTs/SMP), tingkat atas (SLTA/MA/SMA/SMK/MAK), maupun Perguruan Tinggi baik S1, S2, dan S3. Begitu pun dengan pendidikan non formal/informal saja juga kurang cukup untuk zaman sekarang, maka hemat saya adalah bagaimana semua itu mampu dikolaborasikan menjadi satu bagian yang dijiwai dari hati yang paling dalam untuk menjadi sebuhah tuntutan yang didasari kesadaran akan pentingnya pendidikan yang lahir dari hati, pikiran, emosi dan tindakan yang penuh dengan tanggungjawab mencerdaskan kehidupan bangsa dan Ummat demi tegaknya Islam dan kehormatan orang-orang islam serta  berdaulatnya negri ini dari ancaman orang-orang asing, perbudakan, kefakiran, kebodohan, dan kehancuran.

Kenapa saya tertarik menulis ini? Karena jujur, saya merasa dan melihat sekarang ruh pendidikan semakin mengalami degradasi, salah satu contohnya adalah pertama di institusi keluaraga, bapak sibuk dengan pekerjaanya, ibu sibuk dengan kariernya, anak sudah mulai tidak terperhatikan, padahal orang tua mencari nafkah untuk kebahagian dan pendidikan yang layak bagi keturunannya, mereka bagaikan mesin dan anaknya pun dibiarkan lebih banyak bergelut dengan mesin maka wajarlah jika dulu anak takut dengan isyarat orangtuanya, sekarang malah balik memberi isyarat yang lebih kejam dari orang tuanya, jika dulu ucapan orang tua di gugu dan diikuti kini sudah tidak malu sang anak membantahnya, padahal dalam al-quran sudah jelas hal tersebut sangatlah dilarang atau bisa dikatakan anak yang tidak memiliki adab terhadap orang tuanya. Dan banyak contoh lainnya. Wahai para orang tua, yuk kita bersama-sama ingat dan kerjakan apa yang menjadi tanggungjawab kita untuk mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, mau mendengar keluhan anak, membimbingnya dan terus membimbing, memenej emosi diri dan juga anak, menjadi suri tauladan yang baik baginya, sehingga anak kita selalu merindukan kita orang tuanya saat ini dan nanti setelah kita orang tuanya harus terpisah selamanya. Yakin tidak ada bayaran yang setimpal dan tidak ada kebahagiaan yang sangat mengharukan jika kita berhasil menjadi orang tua yang mampu mendidik anaknya dengan hati yang tulus sehingga jadilah anak-anak kita anak-anak soleh/solehah penyejuk hati kedua orang tuanya.

Kedua, di institusi pendidikan. tugas guru itu tidak mudah, jika mau dipikirkan berat dan tidak bisa di nilai dengan uang, kalau mau banyak uang ya dagang seperti yang Rasul ajarkan, karena pintu rizki 9 diberikan kepada pedagang. Oleh sebab itu, siapa pun yang memiliki cita-cita jadi guru, teruslah pupuk karena nilai ibadahnya sangat luar biasa, jangan lupa niat karena Alloh nya harus tetap nomor wahid, sesuai dengan logo kemenag ikhlas beramal, kenapa? Karena mendidik itu 24 jam dalam sehari, di luar dan di dalam sekolah guru harus mampu mendidik anak didiknya, mengingatkannya ketika salah, membimbingnya, dan lain sebagainya yang mengarahkan akhlak dan perilaku sang murid memiliki adab, ilmu yang bermanfaat, dan mendapat keberkahan hidup. beda dengan mengajar yang tiap guru jadwalnya berbeda, dan ini kadang yang membedakan jumlah rupiah yang diterima antara satu guru dengan yang lainnya, terkadang menimbulkan kecemburuan untuk guru yang lainnya, tapi itulah nasib seseorang tidak bisa ditolak sudah Alloh gariskan, makanya "peliharalah keikhlasan dan jadikan Alloh Sebagai satu-satunya tujuan" Yakin bagi orang-orang yang bertaqwa akan Alloh berikan rizqi dari jalan yang tak di duga. Ketika kita mengajar dengan honor kecil, yakinlah jika kita ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya Alloh Akan kasih Rizki yang berlimpah bahkan bisa penuh berkah. Indikatornya? Ingat rizki itu tidak hanya uang, tapi sehat, suami/istri yang soleh, keluarga yang harmonis nan bahagia, anak soleh/solehah, karier mulus, dengan tetangga akur, mudah mengeluarkan zakat, infaq, sedekah, dan banyak kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh kita, itu anugrah yang luar biasa, terutama jika kita melahirkan lulusan terbaik yang bukan hanya pada nilai angka, tapi alumni yang merindukan gurunya, yang mendo'akan gurunya dan peduli terhadap guru dan almamaternya. Semoga, dari al-huda sadananya lahir generasi-generasi Rabbani, pencinta Al-Qur'an, taat pada Alloh SWT, mengikuti apa yang di contohkan Rasulullah Saw, mengambil ibroh dari para sahabat, tabiin, tabiit tabiin, salafussoleh, para waliyullah dan pejuang muslim dan kemerdekaan negri ini.

Terahir, itu semua tidak semudah teori, prakteknya luar biasa penuh tantangan dan hambatan, hanya orang-orang yang ada kemauan yang keras, sabar dan ikhlas serta tawakkal yang bisa mengerjakannya. Semoga kita semua dimudahkan oleh Alloh SWT, Alloh yang melembutkan hati kita semua, lembutkanlah hati kami para pendidik dan anak-anak didik kami aamiin

Untuk anaku, Irfan Yahdi Iskandar Saleh, terimakasih telah menginspirasi tulisan ini

Sadananya, 7 Mei 2020

Eulis Sri Rosyidatul Badriiyah

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT