Sejarah MTs Al Huda Sadananya (part 1)

MTs Al Huda Sadananya - Keberadaan sebuah lembaga pendidikan formal di lingkungan Pondok Pesantren Al Huda Sadananya merupakan sebuah tantangan dan juga peluang, tentunya tidak terlepas dari berbagai hambatan dan rintangan yang menghadang.

MTs Al Huda Sadananya - Keberadaan sebuah lembaga pendidikan formal di lingkungan Pondok Pesantren Al Huda Sadananya merupakan sebuah tantangan dan juga peluang, tentunya tidak terlepas dari berbagai hambatan dan rintangan yang menghadang. Dengan semangat gotong royong dan dalam rangka Izzul Islam wal muslimin serta menjawab tantangan pada masa itu, Ajengan Muslim Abdurrahman Saleh setelah banyak berdiskusi dengan tokoh masyarakat serta orang-orang yang kompeten dibidangnya maka pasca pindah dari dusun landeuh ke dusun tonggoh tahun 1975 beliau berjuang membangun majlis ta'lim hari jum'at pagi untuk para jamaah lelaki dan ahadan/mingguan untuk jamaah perempuan, Madrasah Diniyyah serta pesantren pada tahun 1978 yang kemudian didirikanlah MTs pada tahun 1979 dengan tokohnya sebagai berikut:

  1. Bapak K.H. Muslim Abdurrahman Saleh (alm)
  2. Bapak H. Syarifulloh
  3. Bapak H. Ukin
  4. Bapak H. Encun Mausul (alm)
  5. Bapak H. A. Saefudin
  6. Bapak Baim As'ari
  7. Bapak Soedjono
  8. Bapak Rahmat (alm)
  9. Bapak Satibi (alm)


Dengan salah satu murid pertama nya adalah Bapak Aos Landeuh, Bapak Ajengan Wahyudin Tonggoh, Bapak Ajengan Supyan Sayur, dan Bapak H. Lili Situsaeur. Adapun total murid angkatan pertama kurang lebih 40 orang yang direkrut dari rumah ke rumah oleh Ajengan Muslim.

Adapun guru-guru pada masa awal pendirian MTs Al Huda Sadananya adalah

  1. Ajengan Muslim
  2. Bapak Encun Maoshul (PNS)
  3. H. Baim
  4. Bapak Soma (PNS)
  5. Bapak Ukin
  6. Ibu Juju
  7. Bapak Encu
  8. Bapak Ade
  9. Ibu Edoh
  10. Bapak Hadi
  11. Bapak Ojat (alm)
  12. Ibu Empat
  13. Bapak H. Muhidin

Yang dipimpin oleh kepala Madrasah pertama bernama Bapak Soedjono dari Banjar.

Awalnya pembelajaran dilakukan di madrasah milik pesantren, sampai akhirnya mendapat tanah wakaf dari keluarga bapak H. Maoshul ( Kepala Madrasah pasca Bapak Soedjono) dan Bapak Muslihudin (Kepala Madrasah Pasca Bapak Maoshul) seluas 70 bata yang kemudian di bangun 3 ruang kelas dan satu kantor yang pada saat ini posisi ke 4 ruangan tersebut menjadi ruang perpustakaan, kelas 9a, 9b, dan 9c.

Semoga perjuangan para pendahulu kita, baik tenaga, pikiran, harta dan waktu yang telah dikorbankan nya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka menjalankan dakwah di dunia pendidikan menjadi amal saleh pemberat timbangan amal kebaikan untuk mendapatkan Rahmat serta Maghfiroh Alloh Swt, serta bisa bertemu dengan Rabb nya aamiin

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT